This site requires JavaScript. This message will only be visible if you have it disabled.

JURUS JITU MENDATANGKAN REJEKI

JURUS JITU MENDATANGKAN REJEKI

JURUS JITU MENDATANGKAN REJEKI
(Cerita Sukardi Mencari Rejeki)

Suatu hari, saat matahari senang-senangnya menyinari bumi. Burung-burung pipit berkejar-kejaran saling menyahut satu sama lain. Orang-orang mulai pulang dari sawah untuk ibadah dan mengisi perut. Sukardi tampak murung di pelataran rumahnya, sesekali menghisap batang rokoknya yang tinggal beberapa inci saja. Kopi yang di depannya masih penuh, mungkin Sukardi lupa menyeruputnya sambil merokok atau mungkin merasakan pahitnya kopi sama dengan pahitnya hidupnya.
Suatu saat, ketika hari masih gelap namun sudah kelihatan berkas-berkas cahaya dari timur, orang-orang berhamburan keluar rumah, lari menuju rumah Sukardi. Para tetangga bingung dan bertanya-tanya ada apa. Istri Sukardi waktu itu menjerit minta tolong, katanya Sukardi menenggak baygon cair kemudian kejang-kejang. Tapi, untung nyawanya tak ikut melayang bersama sirnanya malam karena para tetangga sigap dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Seminggu Sukardi terkulai lemas. Beberapa kali Sukardi bergumam “Kenapa hidupku begini? rejeki mampet, hutang banyak dan dagang berkurang terus. Tuhan mengapa begini? engkau tidak adil”. Istri Sukardi hanya bisa mengelus dada dan menasihati suaminya itu, “Sudahlah Pak, yang sabar, jangan memikirkan itu dulu, yang penting kesehatan Bapak sekarang”. “Ibu begitu terus ” gerutu Sukardi. Setelah seminggu Sukardi sehat kembali badannya, entah dengan pikirannya.
Tepat pukul 19.00 WIB, entah darimana timbulnya pikiran, tiba-tiba Sukardi ingin bermain ke rumah teman lamanya yang bernama Sukarwan. Sukardi tidak ingin meminjam uang atau menggadaikan barang, tapi dia hanya ingin bertemu saja, sekedar melepas rindu antarsahabat lama yang jarang bertemu. Sesampai di rumah Sukarwan, sambutan hangat pun diterima Sukardi. Berpelukan, serasa lama tidak bertemu. Begitulah akrabnya mereka berdua.
Di teras depan rumah Sukarwan obrolan terjadi, tidak tentu arah dan tidak tentu topiknya. Tiba-tiba saja obrolan sampai pada pekerjaan. “Sukardi, pekerjaanmu bagaimana? Tanya Sukarwan”. “Masih begitu Wan, daganganku sekarang berkurang, hutang banyak. Tidak tahu kenapa begini. Rejekiku sepertinya mampet” jelas Sukardi sambil menunduk dan sesekali menatap Sukarwan dengan mata seolah menahan tetes air mata.
“Sukardi, gini, kamu jangan berkata begitu, semua rejeki itu sudah ada yang mengatur.  Bukankah Tuhan itu sudah menjamin rejeki setiap makhluknya” ucap Sukarwan sambil menghisap menghisap rokok yang tinggal hisapan terakhir. “Kami enak Wan bicara seperti itu, rumah besar, pekerjaan lancar, uang ngalir terus” keluh Sukardi dengan nada ketus dan mengerutkan dahi. Tak mau kalah argument dan ingin menasehati teman yang keliru cara berpikirnya, Sukarwan mengambil nafas dalam-dalam lalu menyulut rokonya lagi. Setelah beberapa kepulan asap keluar, mulailah Sukarwan berbicara, “Begini Sukardi simpelnya, saya ada jurus jitu mendapatkan rejeki”. Wajah Sukardi berubah mendengar pernyataan Sukarwan, antusias dan penasaran pun ditunjukkan Sukardi. “Ayo Wan, apa Wan?” merengek seperti anak kecil. Begitulah Sukardi yang memang akrab dengan Sukarwan.
Beberapa saat Sukarwan diam mengumpulkan kata-kata dan kemudian mulai berbicara tentang jurus tadi. “Oke, dengarkan baik-baik Di!” memperingatkan dan melanjutkan “Ini jurus ampuh sekali, aku telah memparktikannya Di. Pertama, kamu harus sholat Di. Coba kamu pikir Di, saat adzan itu ada bacaan hayya alasshola yang artinya mari kita sholat, terus setelah itu ada bacaan hayya alal falah yang artinya mari menuju kemenangan. Dari itu Di, kita dapat renungkan kalau Tuhan memerintahkan kita melaksanakan sholat untuk menuju kemenangan. Nah, kemenangan di sini juga termasuk kelancaran rejeki Di. Sampai sini mengerti Di?” tanya Sukarwan memastikan pemahaman Sukardi. Sukardi tidak menyahut tetapi mengangguk dengan penuh keyakinan.
“Kedua Di, kamu harus berdoa. Coba kamu bayangkan Di, dulu ketika kamu kecil sering kan minta uang, mainan dan lain-lain ke orang tuamu? Pernah sampai merengek dan menangis kan? Nah, sekarang kamu coba renungkan lagi Di, Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Memberi. Kamu meminta apapun – apalagi hanya rejeki- pasti Tuhan beri Di. Ingat Di Tuhan itu bukan ibu kamu yang kadang memarahi kamu sebelum memberi yang kita mau. Tuhan itu tidak akan memarahi kamu karena kamu merengek dan menangis terus meminta. Justru Tuhan itu senang melihat hambanya memohon kepadaNya. Makanya Di, teruslah berdoa Di”.
“Yang ketiga sedekah Di. Kalau kamu bertanya kok bisa? Aku jawab bisa Di, malah lebih banyak yang kamu terima. Begini penjelasannya Di, coba kmu perhatikan orang yang menanam padi Di. Apakah benih yang mereka tanam sama banyaknya dengan hasil panen mereka Di? Tidak kan?”. Sukardi mengangguk saja. “Justru Di, yang mereka panen lebih banyak berkali-kali lipat dari benih yang ditanam. Sama juga Di dengan sedekah yang kita beri ke orang lain. Kita akan memperolah lebih banyak lagi dari yang kita beri Di dan yang memberi itu Tuhan Di”. “Kamu, ngangguk-ngangguk saja dari tadi Di, ngerti tidak Di penjelasanku?” tanya Sukarwan yang melihat Sukardi hanya mengangguk dari tadi. “Iya Wan aku ngerti penjelasanmu. Ada lagi tidak?” sergah Sukardi.  
“Dan yang terakhir Di, kamu harus kerja. Ingat ya Di kerja! Bagaimana mau mendapat rejeki kalau kamu tidak kerja Di. Jadi orang jangan malas Di, bekerja itu kewajiban Di untuk memenuhi nafkah keluargamu Di. Orang malas hanya akan mengeluh Di dan disitulah setan akan datang untuk menggoda. Contohnya seperti yang kamu lakukan beberapa waktu lalu itu, yang katanya menenggak baygon”. Sukarwan sambil tertawa dan Sukardi terlihat cemberut. “Sudahlah Wan jangan ungkit masalah itu lagi” pinta Sukardi pada Sukarwan. “Oh ya, satu lagi Di, kamu harus perbanyak istighfar memohon ampun kepada Tuhan Di”. “Siap Bos! Kamu kok alim ya sekarang?” sahut Sukardi sambil hormat ketika bilang siap bos.
“Itu Di jurus-jurusku yang aku amalkan, tidak ada lain Di dan tidak perlu ke dukun. Semoga kamu dalam rahmat Tuhan Di”. “Terima kasih Wan nasihatmu, insyaallah aku amalkan” jawab Sukardi sambil menghisap rokok yang sedari tadi lupa dihisapnya karena menyimak penjelasan Sukarwan.
Sukardi pamit pulang kepada Sukarwan karena telah malam telah larut dan angina semakin dingin. Malam itu Sukardi lewat jalan yang berbeda dari ketika dia berangkat ke rumah Sukarwan. Alasan Sukardi supaya pengalamannya tidak sama. Malam itu pula Sukardi merasa lega hati dan pikirannya setelah bertemu Sukarwan. Entah bagaimana Sukardi mengamalkan petuah Sukarwan, apakah istiqamah dan berhasil, tunggu episode selanjutnya.