This site requires JavaScript. This message will only be visible if you have it disabled.

PUDARNYA PESONA BAHASA MADURA

PUDARNYA PESONA BAHASA MADURA



      Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan seseorang untuk menyampaikan maksud dan tujuan. Selain bahasa resmi (bahasa Indonesia), terdapat pula bahasa daerah yang ada di Negara Indonesia. Sebut saja seperti bahasa Jawa yang digunakan oleh orang jawa, bahasa Madura digunakan oleh orang Madura, bahasa Sunda digunakan oleh orang Sunda, dan bahasa daerah lainnya yang ada di Negara Indonesia. Bahasa-bahasa tersebut biasanya digunakan oleh masyarakat setempat untuk berinteraksi dengan orang lain.
      Salah satu bahasa yang memiliki pemakai bahasa terbanyak setelah bahasa Jawa dan bahasa Sunda adalah bahasa Madura. Bahasa Madura digunakan oleh masyarakat yang ada di pulau Madura dan Jawa Timur bagian timur yang disebut daerah tapal kuda. Terdapat beberapa dialek dalam bahasa Madura, seperti bahasa Madura dialek Kangean, dialek Sumenep, dialek Pamekasan, dan dialek Bangkalan. Bahasa Madura memiliki penutur sekitar 13,6 juta sampai 14 juta penutur.
      Bahasa Madura sama halnya dengan bahasa daerah lainnya memiliki tantangan sendiri untuk mengikuti perkembangan zaman dan serba modern. Bahasa Madura dihadapkan pada tantangan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris di samping bahasa-bahasa lainnya. Selain faktor dari luar bahasa (bahasa lain), faktor penutur memiliki pengaruh besar terhadap pudarnya pesona bahasa Madura. Berikut uraian mengenai beberapa faktor tersebut.

1. Gengsi (Malu)
      Perasaan gengsi (malu) kerap kali muncul dalam diri seseorang ketika menggunakan bahasa Madura. Menggunakan bahasa Madura kadang dicap sebagai orang desa. Oleh karenanya, banyak orang (khususnya anak muda) lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia ketika berinteraksi dengan orang lain. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bentuk pertahanan diri agar tidak dianggap kampungan.
      Ambil contoh kecil saja, ketika di pasar, di warkop, atau ketika membeli sesuatu di pinggir jalan, banyak orang yang sudah menggunakan bahasa Indonesia untuk bertransaksi. Padahal kalau diamati antara penjual dan pembeli merupakan orang asli Madura. Lantas sebenarnya apa yang membuat malu? Apakah tidak percaya diri menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa daerah yang sudah ada sejak lama sebelum bahasa Indonesia? Bukankah bahasa Madura sebagai bentuk kekayaan bahasa yang perlu dilestarikan.

2. Kurang Gaul
      Perspektif kurang gaul ini biasanya muncul dikalangan generasi muda. Generasi muda lebih menyukai penggunaan kata-kata gaul dibandingkan bahasa Madura. Darimanakah bahasa gaul diperoleh? Bahasa gaul biasanya diperoleh dari berbagai sumber khususnya yang elektronik, seperti televisi, media massa, dan media social (facebook, twitter, instagram dan lain-lain).
      Dari beberapa media seperti itulah anak-anak menginterpretasi dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa gaul dipandang bahasa yang kekinian oleh generasi muda dibanding bahasa Madura yang dianggap bahasa kekunoan. Bahasa gaul dipandang lebih menunjukkan eksistensi daripada bahasa Madura.

3. Prestise
      Prestise berkaitan dengan kewibawaan. Pandangan dimana bahasa daerah (bahasa Madura) dianggap lebih rendah kedudukannya dari bahasa Indonesia atau bahasa asing. Oleh karenanya, banyak orang lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing dibandingkan bahasa Madura.
      Bahasa Madura adalah bahasa penghubung/komunikasi antarindividu di pulau Madura yang sejatinya memiliki tempat tersendiri di hati para penuturnya. Sejatinya pula para penutur harus memiliki rasa bangga terhadap bahasa Madura yang dikenal dengan bahasa yang unik. Dengan munculnya kebanggaan menggunakan bahasa Madura di hati penuturnya, maka secara otomatis dapat melestarikan bahasa Madura.

4.  Keluarga
      Jika kita ingat pribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya maka kita dapat mengasumsikan  juga bahwa bahasa anak tidak akan jauh dari bahasa orang tuanya. Jika bahasa orang tua adalah bahasa Madura, maka bahasa anak adalah bahasa Madura pula. Itulah kesimpulan yang dapat diambil jika tidak ada problematika penggunaan bahasa dalam sebuah keluarga. Dewasa ini, sesuai dengan perkembangan zaman, kita tidak serta merta dapat menebak lagi kalau sebuah keluarga bapak dan ibu berbahasa Madura maka anaknya akan berbahasa Madura pula. Sekarang ini sudah banyak anak-anak yang dari awal sudah diajari berbahasa Indonesia.
      Memang tidaklah keliru mengenalkan sejak dini bahasa persatuan kita yaitu bahasa Indonesia, tapi jangan dilupakan bahasa ibu kita pertama kali adalah bahasa Madura. Bahasa Madura harus tetap dilestarikan mulai dari lingkungan keluarga. Keluarga harus memberikan perhatian tentang bahasa Madura kepada anak-anaknya agar bahasa Madura tidak memudar penggunaannya.
      Lalu bagaimanakah cara menjaga agar bahasa Madura tetap lestari? Caranya ada dua yaitu adanya kebijakakan pemerintah untuk memasukkan  bahasa Madura kedalam dunia pendidikan dan sikap bahasa penuturnya. Sikap bahasa merupakan keadaan mental penutur dalam menyikapi suatu bahasa (Kridalaksana,2001:197). Ada tiga ciri sikap bahasa yang diungkapkan oleh Garvin dan Mathiot (1968) dan ini dapat diterapkan dan dijadikan masukan untuk memupuk dan melestarikan bahasa Madura. Pertama, kesetiaan bahasa yang mendorong masyarakat suatu bahasa mempertahankan bahasanya dan apabila perlu mencegah adanya pengaruh bahasa lain. Kedua, kebanggaan bahasa yang mendorong orang mengembangkan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas dan kesatuan masyarakat. Ketiga, kesadaran adanya norma bahasa yang mendorong orang menggunakan bahasanya dengan cermat dan santun merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap perbuatan yaitu kegiatan menggunakan bahasa.